Sunday, July 3, 2011

Sifat Rasa Malu

Malu bertanya sesat dijalan
Malu beriman hilang pedoman.
Tidak sempurna iman sesorang tanpa adanya rasa malu didalam diri insan. Penting lah sifat ini dipelihara didalam hati kita yang akan membahagian  keimanan kita. Sifat malu ini adalah sifat yang paling utama bagi seoarang muslim yang merupakan menjadi benteng dalam kehidupan seorang muslim. Sifat malu ini dikatakan menjadi benteng diri karena hal ini akan menjaga diri dalam kebaikan dan meninggalkan segala perkara yang bertentang dengan ajaran islam dan juga hal ini merupakan penghalang untuk mengikuti hawa nafsu yang bisa merusakkan akidah.
Dalam sebuah hadist disebutkan :
“Malu termasuk bagian dari iman dan iman itu tempatnya di surga. Sedangkan ucapan keji termasuk bagian dari tabiat kasar, tabiat kasar itu tempatnya di neraka” (HR. at Tirmidzi, Ibnu Hibban no. 1929, al Hakim I/52-53 dan Ahmad II/501, berkata Syaikh Salim, “Adapun hadits ini tetap shahih karena ada mutaba’ah/penguat dari Sa’id bin Abi Hilal dalam riwayat Ibnu Hibban”)
Betapa pentingnya menjaga sifat ini yang pastinya akan melengkapi keimanan seoarang muslim karena sifat ini adalah sifat yang memperindah jati diri dan akhlak untuk muslim. Lahirnya sifat malu ini adalah sejalan dangan perjalanan keimanan seorang muslim. Karena , sifat rasa malu ini tidak terpisahkan dengan keimanan. Dalam mimbar tausyiah juga disebutkan bahwa jika sifat malu sudah menghilang , maka berkurang lah keimanan seseorang.

Dalam hadist Rasulallah bersabdah:
“Sesungguhnya malu termasuk bagian dari iman” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sadar maupun tidak, saat ini sifat ini sudah mulai terkikis apabila makin banyaknya berita yang ditayang kan di TV penjuru yang memberikan berita tentang hal yang  kebanyakan hilangnya rasa malu itu, hal ini hilangnya rasa malu terhadap manusia dan Allah yang juga pertandanya lemah nya keimanan. NAMUN….NAMUN…NAMUN….NAMUN,,, seolah hal ini sudah dianggap biasa dan lumrah dalam kehidupan saat ini, seolah mereka memandang sebelah mata sifat ini yang sebenarnya sangat penting untuk menuju kesempurnaan iman seseorang.
Sifat malu ini sebenarnya sudah tertanam dalam setiap hembusan setiap insan, karena sifat malu ini sebenarnya tidak memerlukan tempat untuk singgahsan bak kerajaan yang mewah, hal ini adalah sudah fitrah diri manusia yang sudah tertanam bersama keimanan seseorang.Numun  kebanyakan kita lebih menjaga malu kepada manusia dari pada menjaga malu kepada Allah, dan jika tidak menjaga malu kepada Allah maka apalah jadi generasi yang akan datang,



Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al ‘araf:179)

Membersihkan Hati dan Memperindahnya

Kepastian kita yaitu selalu memberikan penilaian pada seseorang itu dengan berdasarkan sifat lahir yang bisa kita lihat atau lebih kita ketahui juga yang dapat kita jumlah dan diperkirakan dengan logika. Sesuatu perkara kadang kita dilihat dengan mata akan melihat berupa kebaikan atau keburukan yang bisa kita lihat yaitu dari gaya dan dari keelokkan paras muka seseorang yang kita bisa lihat dengan jelas. Dan begitulah kebanyakan pemikiran kita.
Dalam diri kita juga seringnya selalu memperindah wajah kita yang sudah tentu itulah tetapan terbaik dari Allah kepada kita sendiri. Namun diantara kita sendiri juga kadang merasa canggung (ragu) dengan apa yang Allah berikan pada kita. Seolah kita telah tertutup hati untuk selalu membersihkan dan memberindah hati kita. Karena sudah mengikuti kemajuan jaman dan termasuk juga lemahnya iman. Andai kata penilaian kita diambil dari paras muka, memungkinkan diri kita sudah baik dan sudah bagus karena hal itu kita ukur dengan penilaian yang sudah jelas. Namun , bagaimanakah tentang fikiran kita untuk membersihkan dan memperindah hati kita.

Kesan yang paling penting sebenarnya adalah selalu membersihkan dan memperindah hati dengan ketaqwaan dan keiman kepada Allah. Sebuah gambaran kecil bahwa “ baju yang kotor memungkinkan keadaannya kotor” hal ini lah yang menjadi penyebabnya, untuk itulah kita tau hakikat hati kita itu diukur dengan keindahan hati kita. Sekiranya paras muka kita bersih dan indah masih belum tentu hati kita bersih dan indah, hal ini disenandungkan dalam sebuah nasyid yang berlirik” pandangan mata bisa menipu” namun jika hati kita bersih dan indah sudah tentulah baik dan indah juga akhlak kita. Hal ini lah yang menjadi gambaran hati kita. Dalam sebuah hadist disebutkan;

“sesungguhnya didalam diri manusia ada seketul daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh anggotanya dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh anggotanya.”(HR Buhari dan Muslim )
Menjaga, membersihkan dan memperindah hati mungkin sedikit sukar untuk kita, namun bagi kita sebagai muslim selalu membulatkan tekad untuk selalu membersihkan dan memperindah hati untuk menikmati segala sumber yang kehidupan yang baik. Segala kehidupan ini memungkinkan perjalanan penuh duri dan hambatan yang akan kita lalui. Namun jika kita selalu membersihkan dan memperindah hati insya Allah kita akan mendapat kemudahan yang benar. Membersihkan hati dikatakan juga kunci dari kehidupan untuk akirat kelak. Hanya dengan selalu menjaga dan membersihkan hati inilah orang akan memasuki tempat yang baik (syurga). Seperti firman Allah berikut ini :
“ Dan  janganlah Engkau hinakan pada hari mereka dibangkitkan yaitu dihari harta dan anak pinak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” ( QS Asy syu’araa 88-89)
Oleh karena itu, sibuklah dengan menbersihkan dan memperindah hati dari pada memperindah paras muka. Siapa yang selalu menjaga kebersihan hati ini insya Allah akan membukakan pintu syurga, hal ini tinggi nilainya daripada sebuah keindahhan fisik.membersihkan dan memperindah hati ini sebenarnya tugas bagi seorang muslim, jika hal ini selalu dalam keadaan bersih akan membawa diri kita dalam kebaikan.
“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy syams:9-10)
Kata K.H Abdullah Gymnastiar atau yang kita kenal Aa Gym pernah mengatakan:” dengan hati yang bersih dan hidup inilah , orang yang lumpuh menjadi mulia, orang yang tidak cerdas menjadi gemilang. Dan dengan kebersihan hati ini, insya Allah , otak akan lebih cerdas, ide lebih bijak, gagasan akan lebih cemerlang.
Semoga kita bisa selalu menjaga kebersihan dan memperindah hati dengan ketaqwaan.
“INDAHNYA PRIBADI BERAWAL DARI HATI YANG BERSIH DAN BAIKNYA SIFAT KITA”


Bulatkan Tekad

Ibnu taimiyyah pernah juga mengatakan:”Didalam  hati seringkali terlintas suatu keadaan.”
Ketahuilah bahwa hidup ini adalah untuk saat ini dan hanya batasan hari ini saja, kadang fikiran kita melayang dan berangan dan terlintas juga sebuah keraguan didalam hati untuk memutuskan suatu perkara yang ada saat ini. Mudah dalam keadaan keraguan itulah kebanyakan sikap dari diri manusia dalam menentukan suatu masalah yang menjadikan dirinya tidak mampu memutuskan masalah dan akhirnya ia akan menjadi beban fikiran dan menjadi stress.sesungguhnya keraguan itu akan menimbulkan keresahan jiwa dan akan memusnahkan kepercayaan.
Ragu – ragu akan memakan waktu kita dalam keadaan yang membodohkan diri karena hal ini merupakan pembunuhan kepercayaan dalam menghadapi sebuah masalah itu sendiri. Ada sebuah syair mengatakan bahwa” sikap meneguhkan fikiran ( tidak ragu-ragu) akan mematahkan sebatang besi.” Hal ini dikatakan betapa kuatnya sikap ini karena dalam tabiatnya juga bahwa sikap keteguhan hati ini tidak akan terkalahkan oleh apapun terkecuali ada sifat ragu-ragu dalam hati kita.
Firman Allah menjelaskan;
; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan.” (QS. thaha:72)
Tidak ragu-ragu dalam mengambil sebuah keputusan akan menghasilkan yang lebih baik dari pada pengambilan sebuah keputusan dengan keraguan yang akan menimbulkan kerisauan didalam hati kita. Keteguhan ini sebenarnya juga disamakan dengan aqidah. Jika aqidah kita kuat , maka tidak akan terbawa oleh arus keraguan.
Rasulallah pun pernah bersabdah:
Abu Muhammad ; Hasan bin Ali bin Abi Talib, cucu kesayangan Nabi Muhammad berkata,” saya menghafal pesanan Rasulallah yang berbunyi, “tinggalkan perkara-perkara yang kamu ragu dan gantikan dengan perkara-perkara yang tidak kamu ragui.”” (HR Tarmidzi dan Nasai )
Dan sebuah syair mengatakan ;
“ Jika anda mempunyai pendapat
putuskanlah dengan tegas
karena sesungguhnya keraguan anda
akan melemahkan pendapat anda sendiri,”
 
Hal membulatkan tekad dan memperkuat keyakinan akan membawa ketenangan bagi fikiran ini karena hal itu sudah dimatangkan untuk diulas. Maka dengan ini kita juga harus melakukan perkara-perkara yang kita yakini dalam hati. Jika dalam hati kita ada sebuah keraguan untuk melakukan seuatu perkara , maka jangan lah melakukan hal itu karena tidak mendapatkan kenyamanan dihati.
Hadist menerangkan ;
diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud r,a : “ jalan keluar dan kelapangan hati itu ada dalam keyakinan dan keridhaan hati. Sedangkan keresahan dan kesedihan itu ada dalam keraguan dan ketidaksukaan.” (hadist)

Sesudah nya kita juga harus melakukan musyawarah dalam melakukan perkara agar tidak terjadi keraguan diantara perkara itu, bermusyawarah harus dibenarkan karena hal ini dapat membantu kekukuhan dalam pengambilan perkara walau dengan sedikit kesabaran. Dan lakukanlah bermuhasabah diri kepada Allah untuk menuntunkan akhir perkara keteguhan yang lebih meyakinkan.
Firman Allah :
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Al imran:159)

“sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Al a’raf:144)

INTROSPEKSI DIRI



Allah S.W.T. berfirman
“dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) .” (QS. Al qiyaamah:2)
Salah satu Firman Allah .S.W.T. diatas mungkin kita tidak banyak tau tentang apa yang harus disesali kita saat ini , karena kita sudah mulai terbawa dengan keadaan sekitar kita untuk berbicara apa dan apa yang kita mau.
Kita sekarang lebih banyak menyalahkan orang lain apabila kita mendapat musibah yang sebenarnya itu adalah akibat dari diri sendiri ini, namun karena ketidak tauan kita dalam menelaah sikap dari sendiri atau INTROSPEKSI atas diri sendiri, menyalahkan orang lain akan menimbulkan kedengkian diantara sesama teman.
Seperti hal  berikut ini:
"Barangsiapa yg mengenal dirinya, ia akan sibuk untuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain."(Ibnul Qayyim).
Sebenarnya beruntunglah kita jika kita bisa mengenali diri dan bisa merubah sikap diri dari pada kita sibuk mencari kesalahan dan aib seseoarng, karena hal mencari aib seseorang itu sama juga halnya sikap kita adalah tidak bisa menjaga sebuah amanah itu sendiri yang bisa kita kiatkan dengan tidak bisa dipercaya untuk diberi suatu amanah. Dalam hal lain juga bahwa orang yang pandai dan cerdas inilah mereka akan senang memperbaiki dirinya sendiri dari pada memperbaiki orang lain dan menyalahkan hal yang berkaitan, tapi kita juga diharuskan untuk selalu mengingatkan teman kita agar selalu bisa bersikap dalam hal ini. Digambarkan bahwa orang yang suka mengolok-olok atau menyalahkan orang lain ini sama halnya mereka itu selalu terbawa oleh sikap hawa nafsu yang akan menjerumuskan kita kedalam kehinaan.
Seperti hadis berikut ini :
“Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah Swt” (HR.  Tarmidzi).
Firman Allah S.W.T.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al hasyir:18)
Dari hal ini lah kita sebagai orang yang mempunyai keimanan itu hendaknya kita memperhatikan apa – apa yang akan dan telah dilakukan agar tidak menimbulkan kekacauan disekitar kita. Introspeksi diri ini sangat baik halnya dari pada menyalahkan atau mencari kesalahan orang lain. Selagi diri masih mempunyai kekurang apalah gunanya kita mencari kekuarangan orang lain. Seperti sesuatu yang ditulis oleh HASAN AL BASRI  “mengtakan:”seseorang muslim lebih banyak bermuhasabah diri sendiri daripada menilai temannya”.


”,,,,,,,Maka ambillah ( kejadian itu )untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”( QS Al hasyr: 2 )


Maafkanlah Kesalahan Teman

Firman Allah S.W.T :
“Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. (QS. Al ‘araaf:199)

Sangat tidak pantas rasanya jika kita menjauhi saudara kita karena satu atau dua kebiasaan buruk yang tidak dapat kita terima dengan hati kita. Padahal ada kebaikan dari sisi yang lainnya.  Dalam hal ini mungkin dalam konteks nya satu atau dua kali ada peningakat yang mungkin sedikit susah untuk diterima lagi oleh hati kita. Padahal memaafkan adala jiwa yang paling agung  dan mulia. Dalam ahli falsafah yang bernama  AL – kindi pernah mengatakan :” bagaimana engkau mengharapkan moralitas  tertentu dari teman engkau, sementara dia terdiri dari empat tabiat. Jiwa yang merupakan paling dekat dengan insan yang merupakan suatu kawalan untuk memilih dan berkehendak, tidak dapat memberikan kawalan itu kepada orang yang memiliki untuk semua kehendak dan tidak dapat meng iya kan semau yang diharuskannya itu. Dan bagaimana dengan jiwa yang lain.?””
Firman Allah menjelaskan :
“ Begitu jugalah keadaan kamu dahulu , lalu Allah menganugerahkan ni'mat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An nissa:94)
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (QS. An najm:32)
Maka cukuplah untuk menerima bagian dari terbesar tabiat saudara anda,
Abu Darda’ R.A. juga pernah menyatakan :” mencela teman itu lebih baik daripada kehilangan dirinya.  Siapa yang bisa menemui segalanya pada diri saudaranya . lantaas pernyataan beliau ini dapat membuka inspirasi untuk para pecinta bait-yang semakna darinya.
Abu Atahiyah menytakan:
Hai saudaraku tersayang
siapakah engkau sebenarnya
hingga ingin mendapatkan dari saudaranya
yang menghuni dunia ini
apakah yang engkau inginkan?
pertahankalah sebagian dari kemampuanmu
yang diperlukan untuk orang lain
agar kamu tidak membosankan setiap orang
yang tidak dapat engkau berikan kepadanya
semua kemampuanmu.
Abu Tamam Ath- Tha’I menyatakan:
Tidak ada kerugian yang paling parah bagi seseorang
selain kehilangan akalnya
dan tidak ada seorang pun
yang dapat memperoleh seluruh yang diinginkan
dari seluruh temannya.
Seorang bijak bestari pernah menyatakan “adanya tuntutan terhadap keadilan adalah karena jarang nya keadailan.”

Dan yang lain juga menyatakan.”
“Janganlah hanya karena satu aib tersembunyi atau dosa kecil yang sebenarnya dapat ditutupi oleh kebaikannya yang lebih banyak, engkau menjadi jauh  dari seseorang yang pernah engkau puji latar belakangnya, yang pernah engkau terima kehidupannya, yang pernah engkau ketahui kemuliaannya. Sesungguhnya engkau tidak akan menemui teman yang bersih tanpa kelemahan dan  tidak juga pernah melakukan kesalahan. Oleh karena itu, cerminlah pada diri sendiri sesudahnya, pertimbagkanlah dengan pandangan yang obyektif, dan jangan lah engkau menilai dengan sesuka hati mu.sesungguhnya pertimbangan mu terhadap dirinya juga penilaian terhadapmu juga akan membantu mu untuk mendapatkan apa yang engkau inginkan dan dapat membantumu dalam sikap penyantun terhadap orang yang berbuat kesalahan.
“ tiada seorang pun yang dapat memuaskan hatimu semua karakternya. Cukup bijak seseorang jika dia mau menghisab kelemahan-kelemahan dirinya.”

An-Nabighah Adz- Dzibyani  menyatakan
Engkau
tidak akan mendapatkan seorang teman pun
yang terbebas dari celaanmu
karena kelemahan yang ada padanya
karena  mana ada orang yang bersih
dari kelemahan.

Ibnu Rumi pernah berkata :
Manusia dan dunia ini
pasti mempunyai kekurangan
yang tak sedap dipandang mata
atau kelemahan yang mencemarai kesucian.
Tidaklah adil jika engkau
menginginkan teman yang bersih dari dunia ini 
sedangkan engkau sendiri tidak bersih.

“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An nur :21)

Dalam jati diri teman kita adanya kekurang atau kelemahan, namun semua hendaknya kita maafkan segala apa yang ada padanya itu serta maafkan lah hal itu. Adanya kekurang atau kelemahan pada dirinya jangan sampi engkau menjauhi bahkan berburuk sangka kepadnya. Hendaklah kekurang dan kelemahan itu dialihkan dalam jiwa yang lapang dan hati yang damai, karena sebagai manusia biasa terkadang  lalai  untuk memperhatikan jiwanya. Hal ini bukan berarti dari kelemahan yang ada padanya menjadikan engkau memusuhinya dan bosan kepadanya.
Dalam kata-kata hikmah tertulis : “ Janganlah rusakkan hubungan mu dengan seorang teman oleh prasangka buruk, padahal sebelumnya engkau yakin benar akan kebaikannya.”
“,,,,maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al hijr :85)
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,,” (QS. Al imran:159)
dijabarkan oleh DR.'AID BIN ABDULLAH-QARNI

KENDALIKAN PERASAAN




(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu JANGAN BERDUKA CITA terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu JANGAN TERLALU BAHAGIA  terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al hadid:23)

Terlarut dalam suasana yang kesedihan dan kegembiraan itulah hakikat manusia menjalani  hidup ini yang tidak menentu. Yang kadangkala hal itu membuat diri dalam keteguhan bahkan keraguan dihati insan. Ayat diatas menjelaskan bahwa kita sebagai insan juga harus bisa mengendalikan perasaan kita agar tidak bersedih maupun terlalu berbahagia atas apa yang terjadi karena jika sesuatu dalam berlebihan itu tidak ada kebaikan bagi diri sendiri.perasaan seseorang akan bergolak karena 2 perkara seperti diaatas yaitu kegembiraan yang memuncak dan musibah yang berat.
Dalam hadis Raulallah S.A.W bersabdah: “ Sesungguhnya aku( Nabi Muhammad ) melarang dua suara yang dungu dan buruk , ketika sedang mendapat nikmat ( bersuka ria ) dan suara ketika tertimpa musibah ( meratap ).”

Dari semua nya itu, bahwa sesungguhnya perasaan yang tidak dikendalikan hanya akan meletihkan, menyakitkan, dan meresahkan diri sendiri yang akan mengematar kan seluruh tubuh dan akan mengikuti segala nafsu yang ada pada saat itu.
Dan pada kesempatan lain juga Rasulallah bersabdah:
“ Allah lebih bergembira dengan taubat diantara kalian yang berada di diatas kendaraannya yang telah tersedia makanan dan minuman. Kemudian kendaraan itu hilang dipadang pasir. Ia mencarinya hingga kesana dan kemari hingga putus asa. Dan ia pun tertidur, pada saat terbangun kendaraan itu sudah berada didekat kepalannya. “ kemudian dia berkata “ Ya Allah, Engkau hamba ku dan aku Rabb MU. Ia salah mengucapkan karena terlalu gembiranya.”(hadist)
Inilah gambaran tentang ungkapan tentang kegembiraan yang sangat melampaui batas. Karna itulah manusia, kadang ketika saat bahagia mereka mudah melupakan dirinya dan tidak tau lagi siapa dirinya. Dan ketika bersedih juga ia akan menyalahkan keadaan dan menyalahkan orang yang ada disekitarnya.
Oleh sebab itu, siapa saja yang mampu mengendalikan perasaan dalam setiap peristiwa yang mengembirakan dan dalam kesusahan, maka ia memiliki keteguhan hati dan stabil dalam menjalani kehidupan ini karena mampu mengalahkan nafsu. Allah juga menyebutkan bahwa manusia senang berbahagia dan berbangga diri jika mengalami suatu nikmat , dan mudah mengeluh atau bersedh hati jika ditimpa suatu musibah. Maka dari itu mulailah seimbangkan perasaan hati. Insan yang mempunyai keteguhan hati akan bersyukur manakala mendapat nikmat dan bersabar katika dalam kesusahan.

Dalam hadis , Rasulallah bersabdah ;
“aku mohon kepada MU ya Allah agar aku selalu bersikap sederhana , baik ketika marah ataupun senang.”





DENGAN SIAPA KITA BERGAUL


Termasuk hal membahagiakan juga manakala kita mendapatkan teman yang baru dalam kehidupan, yang memungkinkah menambah wawasan serta bisa berbagi dalam pengalaman diri. Dan mencari teman mungkin inilah sebagian dari tujuan kita agar kita mudah bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat, hal ini akan memudahkan kita untuk bergaul dalam masyarakat dan berleluasa dengan masyarakat umum.  Dalam sebuah hadist juga kita dituntut untuk mencari sahabat sebanyak mungkin dan selalu menyambung silaturahim agar hidup ini penuh barokah.Namun dalam islam juga ada aturan untuk memilih teman agar kita sendiri tidak ikut serta dalam kesesatan.seperti hadist berikut:
“seseorang itu bergantung pada agama teman akrabnya. Maka hendaklah salah seseorang diantara kamu memperhatikan siapa yang dijadikan teman karab.”( HR tirmidzi )
Kita tau bahwa kita akan serupa dengan teman yang menjadi teman kita. Maka itu pandailah kita memilih teman yang mau dijadikan teman. Kita akan medapatkan apa-apa  yang menjadi nilai dari teman kita berupa akhlak dan ilmu yang serupa dari teman kita. Kiat memilih teman juga sama halnya dengan memilih akhlak untuk kita sendiri. Jika teman itu baik akhlaknya maka baiklah juga akhlak kita.
Dalam sebuah hadis menyebutkan ;
“perumpamaan teman duduk yang baik dan yang buruk ialah seperti pembawa minyak kasturi dan peniup cerobong api. Pembawa minyak kasturi adakalanya memberimu dan adakalanya engkau membeli darinya atau engkau akan mendapatkan aroma yang harum daripadanya. Sedangkan pembawa cerobong api adakalanya membakar pakaianmu dan adakalanya engkau akan mendapat bau yang busuk”. ( HR Buhari )
Hadist diatas inilah yang harus menjadi pedoman kita untuk memilih siapa yang akn menjadi teman kita. Teman kita diibaratkan tingkah kita yang akan datang sesudah berteman dengannya. Ada sebuah syair  yang menuliskan kata .” Bayangan mu tentang  teman mu adalah sama halnya dengan mu.” Atau dengan kata mutiara lama . “kamu dan teman mu adalah seperti kamu dengan bayangan mu sendiri.” Maka hal ini lah yang menjadikan sesuatu itu lebih disadari untuk memilih teman  yang akan dijadikan teman kita.
Sesungguhnya siapa yang suka bergaul dengan orang kaya,akan ditambah rasa cinta  kepada dunia. Siapa yang suka bergaul dengan orang miskin,akan ditambah rasa syuqur dan ridha kepada Allah. Siapa saja yang suka bergaul dengan lawan jenis (bukan muhrim ),akan diambah syahwat. Siapa saja suka bergaul dengan anak kecil,akan ditambah kesukaannya bermain-man dan bersenda gurau. Siapa saja yang suka bergaul dengan orang fasik,akan berani berbuat dosa. Siapa yang suka bergaul dengan orang sholeh,akan ditambahkan juga keimanannya. Dan barang siapa yang bergaul dengan para ulama,akan ditambahkan pemahaman ilmunya.
“janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang yang beriman” (HR Daud )